Walkout, Rumah Tuhan dan Racun


Sudah lama saya berhenti berpikir bahwa gedung gereja adalah “Rumah Tuhan”. Itu adalah tempat nama Tuhan dimuliakan, benar… tapi itu bukan Rumah Tuhan. Kalau itu Rumah Tuhan, tentulah tidak akan terjadi hal-hal melenceng di dalamnya, Tuhan tentu tidak mengijinkan rumah-Nya disalahgunakan.
 
Jadi saya tidak merasa bersalah ketika hari ini, untuk pertama kalinya kesabaran saya melebihi batasannya dan saya memutuskan untuk walkout 10 menit setelah pengkotbah dari Jakarta (dokter yang digelari pdm.) mulai berkotbah. Duh, saya mendengar sebagian dari teman-teman atau yang mengenal saya berkata “gak aneh!!!” dan “kebiasaan kamu sok benar!!!”… Hahaha, i can take that, saya tidak keberatan sama sekali dengan predikat ‘pemberontak’ ketika saya mengatakan “TIDAK” untuk sesuatu yang salah.
 
Sebenarnya perasaan saya sudah tidak enak ketika salah satu Worship Leader, yang adalah tim pelayanan dari bapak dokter ini, mengatakan “Tuhan itu baik dan Dia tidak meminta balasan apapun dari kita, karena itu kita harus tahu diri”. Sebagian dari Anda mungkin ada yang berpikir “apa salahnya?”. Ayolah, Anda pikir apa gunanya 10 hukum taurat? Anda pikir apa artinya ketika Tuhan Yesus berkata “kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu”?
 
Selanjutnya perasaan saya lebih tidak enak lagi ketika di doa awal kotbah Sang Dokter memimpin seperti ini “Kami bersyukur karena Engkau Baik, Tuhan. Kami bersyukur karena kami bisa hidup, karena kami bisa makan tiga kali sehari, karena tidak ada keluarga kami yang tercerai berai, karena tidak ada keluarga kami yang menggunakan narkoba,…”. Jika di antara jemaat ada mereka yang sedang susah hati karena keluarganya terlibat narkoba, atau orang tuanya bercerai, atau dia tidak dapat makan tiga kali sehari dan memutuskan ‘mencari Tuhan’ ke gedung itu… Apa artinya Tuhan tidak baik untuknya?
 
Hal berikutnya ketika di awal kotbah Bapak Dokter berkata “saya tahu kenapa Anda semua ada di sini, datang ke gereja… Pasti sama seperti saya, karena kita semua ingin masuk Surga”. Saat itu saya mulai menjadi sangat gelisah dan berbisik pada anak asuh saya “ini ga bener!”
 
Kotbah berikutnya dilanjutkan dengan menceritakan kehebatan Bapak dokter yang sekolah 10 tahun di Jerman hingga mengambil spesialis dan super spesialis, lalu ke Perancis, lalu ke London, ke Amerika (beberapa tempat sekaligus) dan ke Jepang, namun kemudian memutuskan kembali ke Indonesia. Lalu kemudian memutuskan melayani Tuhan karena (perhatikan baik-baik) dia ingin masuk Surga.
 
Saudara, jika Anda bersama anak Anda memutuskan untuk makan di suatu restoran, kemudian Anda melihat tukang masak restoran itu mengambil makanan yang sudah berceceran di lantai, memungutinya dan menaruh lagi di piring untuk disajikan kepada Anda, apa yang akan Anda lakukan? Tentu Anda menolak untuk makan sampah itu walau terlihat enak. Terutama, Anda ingin supaya anak Anda tidak memakannya. Itulah yang saya lakukan, saya menolak untuk makan sampah, dan saya tidak mau anak asuh saya memakannya juga, jadi saya mengajaknya keluar.
 
Saya menjelaskan bahwa orang Kristen harus mengetahui prinsip-prinsip Dasar Kekristenan dan menolak ketika berhadapan dengan penyesat. Saya bangga ketika anak asuh saya sudah mengerti bahwa kita diselamatkan karena iman pada Yesus, bukan karena pergi ke gereja atau mengambil bagian dalam pelayanan.
 
Bapak-bapak yang melayani di mimbar, atau para pendeta yang menggembalakan jemaat. Bukankah Anda diberi tanggungjawab besar untuk memberi ‘roti’ pada mereka yang lapar. Lalu mengapa seringkali Anda mengijinkan orang lain memberi ‘racun’ pada jemaat yang Tuhan percayakan? Mengapa seringkali Anda tidak mengolah roti itu dengan benar sehingga mungkin membuat yang memakannya menjadi sakit perut?
 
Saya mendengar dari mama saya bahwa dulu ada pendeta yang sering berkata bahwa Neraka mulai dirasakan di bumi, ketika kita mendapat ‘masalah’ menuai akibat dari perbuatan kita. Penjelasan yang tidak baik menyebabkan jemaat yang tertimpa masalah berkata “salah saya apa Tuhan?” atau menghakimi orang yang tertimpa masalah dengan berkata “pasti dia pendosa!”
 
Para domba, sebagai sesama domba saya menasihati, jangan memakan apa saja yang disajikan pada Anda. Jadilah domba-domba cerdas yang tidak hanya duduk termangu-mangu.
Advertisements