Jemaat yang pasif dan eksklusif, WWJD??


Kemarin saya menulis tentang “Nama Allah dalam Alkitab” dalam sebuah status di Facebook. Tak membutuhkan waktu lama sampai seorang yang (merasa) netral menegur saya dengan “jangan memperkeruh suasana”. Komentar itu terpaksa saya hapus karena saya sedang malas berdebat dan komentarnya bisa jadi akan menimbulkan banyak perdebatan.

Kali ini, saya tidak peduli jika ada orang yang mengatakan bahwa saya memperkeruh suasana. Saya membuka diri untuk diskusi. 

Saya setuju dengan Bang Denny Siregar dalam tulisannya yang menghimbau agar umat Kristen tidak menjadi umat yang pasrah dan diam saja. Sesuatu yang tidak benar harus dilawan, bukan dengan perang, tapi dengan konstitusi.

Saya pun kemarin mengatakan itu dalam diskusi dengan seorang teman. Bukan masalah agamanya… tapi masalah intoleransi yang harus kita perangi. Itu sebabnya mendadak saya aktif di twitter setelah mendengar kasus pengusiran kemarin.

Jika mau jujur, sebenarnya saya tidak terlalu peduli. Bahkan dalam candaan saya dengan beberapa Saudara Seiman saya berkata “inilah dampaknya pasang stiker di mana-mana. Jika Yesus yang ditinggikan dan salibnya diberitakan…maka pasti Dia menarik semua orang datang kepadaNya….Namun jika yang ditinggikan adalah Hamba Tuhan yang fotonya besar-besar dipasang…tak salah jika semua ormas datang kepada mereka”

Namun sebagai warga negara, saya sangat kesal dengan aksi intoleransi seperti ini. Kekesalan saya akan sama jika mereka menghentikan pemujaan Umat Hindu atau Umat Buddha atau pemujaan umat lain… Ya, ini bukan masalah agama tertentu menjadi korban…ini masalah intoleransi.

Intoleransi yang dimulai ketika suatu golongan merasa dirinya paling benar dan golongan lain dianggap salah semuanya, kemudian yang merasa benar memaksakan pemahamannya kepada golongan lain, ditambah dengan kekerasan baik verbal maupun non verbal.

Bagaimana seharusnya sikap umat Kristen?

Saya sangat setuju dengan ayat “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Juga soal bagaimana bersikap pada mereka yang bersikap buruk pada kita, semua yang tertulis dalam Alkitab. Saya setuju semuanya.

Masalahnya ada banyak di antara kita akhirnya lupa mengenai ayat “kamu adalah terang dunia”

Bicara soal terang dunia adalah bicara soal sesuatu yang aktif, menghabiskan energi (lihat saja lilin, lampu, senter, semua membutuhkan energi untuk menyala) dan berdampak. Seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari, seharusnya kita memantulkan cahaya Kristus. Sayangnya, banyak orang yang lebih suka ‘tinggal dalam terang’ daripada ‘menjadi terang’. 

Maksud saya begini…

“Menjadi terang” itu tidak sekedar predikat yang disandang orang Kristen seperti gen yang diturunkan dari orang tua ke anaknya. Menjadi terang adalah sebuah fungsi yang secara aktif dilakukan oleh setiap orang yang mengaku Pengikut Kristus.

Saya tidak tahu bagaimana para Pendeta Besar mendefinisikan soal ‘menjadi terang’ ini. Bagi saya, salah satu fungsi terang adalah menyatakan apa yang benar. Bukan cuma sekedar melakukan apa yang benar. Tentu saja maksud saya tidak melakukannya dengan kekerasan…kasih harus tetap menjadi senjata dan prioritas kita. (Jangan salah sangka… saya tidak sedang bicara tentang penginjilan)

Saya bingung dengan Orang Kristen hari-hari belakangan. Mungkin predikat ‘minoritas’ yang diperparah dengan tekanan demi tekanan menjadikannya begitu pasrah dan rapuh dengan apa yang terjadi. Ayat favorit mereka adalah ‘Oh Tuhan, ampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’. Tahukah Anda, bahkan Petrus menyatakan kebenaran sebelum akhirnya dia dihukum mati, demikian juga rasul-rasul yang lain. 

Sikap pasif yang cenderung apatis ini membuat orang Kristen menjadi orang Kristen yang tidak militan, sorry to say. Jika suatu saat, ada yang memintamu menyangkali imanmu… apa yang akan kau lakukan? Apakah dalih pembawa damai akan kau jadikan alasan untuk akhirnya mengikuti keinginan mereka?

Seorang anak di Ambon saat kerusuhan mati karena berani berkata “Beta laskar Kristus”. Keberanian menyatakan kebenaran inilah yang sudah memudar dari kita di jaman sekarang. (sekali lagi, ini bukan soal penginjilan, tapi keberanian)

Tidak, tolong jangan salah sangka…saya tidak mengatakan bahwa seharusnya kemarin umat Kristen melawan dengan berteriak-teriak saat didatangi ormas. Tidak…jangan lakukan itu… Tapi kita harus melawan intoleransi yang terjadi. Pikirkan… what would Jesus do?

Apa yang Yesus lakukan saat orang Farisi melemparkan seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah kepada Yesus. Yesus tidak tertunduk lesu kemudian membiarkan wanita itu dilempari batu sambil berkata “perempuan, kita ampuni saja mereka ya”. Tidak, dia menyatakan kebenaran….

Apa yang Yesus lakukan saat melihat Bait Suci dipakai berjual beli. Dia tidak berdoa dan berkata “Bapa, kita ampuni saja ya”. Mungkin orang Kristen jaman sekarang akan berkata “Yesus tidak punya kasih, terlalu kasar…seharusnya ampuni saja” persis seperti orang Farisi. Tapi apa yang dilakukan Yesus?

Dia menyatakan kebenaran!

Saya pernah datang ke suatu ibadah di salah satu Gereja Bintang Lima di kota Bandung. Seperti kebanyakan Gereja seperti itu, mereka menggunakan multimedia dengan tampilan HD untuk membawakan pengumuman yang sebenarnya biasa-biasa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah sebelum host pengumuman ditayangkan di big screen itu, ada menu makanan sebuah Cafe, dilanjutkan dengan plang cafe di kota Bandung. Kemudian kamera menyapu atmosfer cafe itu dan tadaaa, host pengumuman muncul dengan gaya bak pembaca berita profesional. Di akhir pengumuman, host tersebut dengan jelas menyebutkan di mana letak Cafe tersebut.

Hal yang membuat saya heran adalah, hampir tidak ada satu jemaat pun yang terlihat resah melihat hal itu. Sepertinya itu merupakan suatu hal yang wajar di era modern seperti ini. Semuanya duduk dengan tatapan pasif ke arah mimbar, tak ada gerak tubuh yang menyatakan keresahan melihat kegiatan jual beli itu tidak hanya ada di pelataran Bait Suci, tapi sudah masuk ke mimbar. What would Jesus do?

Umat Kristen, berhenti menjadi pasif.., untuk bisa melakukan kebenaran pertama-tama kita harus mengetahui dulu apa yang benar. Kemudian setelah mengetahuinya kita harus menyatakannya.

Tunjukkan keberatan melawan intoleransi yang melanggar konsitusi. Kita memang Warga Negara Surga, tapi kita tinggal di Indonesia. Di negara ini kita harus berkontribusi. Bukan dengan makian, tapi dengan berhenti menjadi eksklusif dan berhenti tidak peduli!

Bagaimana kita bisa menjadi terang jika kita tidak mau berada dalam kegelapan dan kemudian menyinarinya? Bagaimana menjadi terang jika kita bahkan tidak sanggup berkomunikasi dengan mereka yang agamanya berbeda dengan kita.

Bagaimana kita bisa menjadi terang jika kita ke mana-mana membawa tempurung bersama kita. Kita menjadi eksklusif, sibuk dengan program gereja hingga melewatkan program RT dan RW setempat.

Bagaimana kita bisa menjadi terang jika yang sibuk kita banggakan adalah posisi kita di gereja dan kemewahan gedung gereja, tapi tidak peduli dengan sampah di lingkungan kita atau masalah pembantu RT kita?

Bagaimana kita menjadi terang jika kita sibuk mengurusi skandal yang terjadi di dalam gereja tapi mengabaikan undang-undang yang dilanggar di depan mata kita? Bukankah Yesus mengajar kita untuk “berikan pada kaisar apa yang menjadi haknya” termasuk kontribusi kita sebagai Warga Negara yang bertenggungjawab?

Mungkin itu kenapa Ahok menjadi fenomena…seorang yang bertekad menjadi terang dengan menyatakan kebenaran. Ironisnya justru beberapa orang Kristen yang pasif ini menyarankan agar Ahok mundur. 

Jaman sekarang mudah sekali kita berkontribusi…internet dan media sosial membantu kita untuk berkontribusi dan menjadi peduli.

Ah, saya tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan isi kepala saya…semuanya terlalu rumit, bercampur menjadi satu…. mudah-mudahan ada yang mengerti maksud saya…jika ada yang tidak, saya mohon dimaafkan..

——

Ps: Tak lama setelah saya menshare tulisan ini di Facebook ada yang mengatakan bahwa saya tidak bisa memaksakan pikiran menjadi terang yang aktif di jaman sekarang karena menjadi terang yang aktif menurut beliau adalah penginjilan dan itu cuma ada di Perjanjian Lama.

Lepas dari yang dikatakannya ngawur atau tidak (setelah saya jawab beliau mengata-ngatai saya dan menghilang) saya ingin menjelaskan bahwa menjadi terang yang aktif tidak semata-mata berkeliling dunia membawa Alkitab sambil menginjil. 

Anak Ambon yang menjadi martir tidak sedang menginjil, ia menyatakan kebenaran. Tapi orang Kristen saat ini bahkan tidak sanggup menyatakan kebenaran ketika kesalahan terjadi di dalam gereja.

Ketika seseorang menyatakannya maka orang itu dianggap sesat, berbahaya, pemecah belah jemaat, menghakimi dan lain-lain.

Intinya…tulisan kali ini bukan soal menginjili, tapi soal keberanian menyatakan kebenaran.

Advertisements