Ketika Tuhan Menolak ‘Persembahan Terbaik’ Kita


Saya suka dengan kisah Kain dan Habel. Bukan… bukan ketika Kain membunuh Habel, itu adalah kisah tragis yang memilukan (walau kisah tentang pembunuhan itu merupakan pelajaran yang baik mengenai seseorang yang tidak dapat mengendalikan diri dan menjadi ‘gelap mata’).

image

Saya suka kisah tentang Kain dan Habel yang mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan. Oh ya, saya rasa Kain pun memberikan yang terbaik untuk Tuhan… hanya saja dia menggunakan ukuran yang berbeda, yaitu ukurannya sendiri.

Saya bayangkan, mereka sudah dewasa dan sudah waktunya memberi sendiri korban pada Tuhan, tidak lagi dengan orang tuanya. Mereka sudah dewasa dan bertanggungjawab atas korbannya sendiri kepada Tuhan.

Merasa gengsi, atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak mulai membuat teorinya sendiri, “apa bedanya? Bukankah ladang ini juga ciptaan Tuhan dan aku bekerja dengan berpeluh untuk memberikan hasil tanah terbaik?”

Merasa gengsi, atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak membuat asumsi sendiri dan menyiapkan gandum dan sayur-sayuran terbaik untuk korban bakaran. Lupa akan artinya “darah yang tercurah” yang sudah pernah diceritakan orang tuanya yang terusir dari Eden.

Merasa gengsi atau tidak mau repot untuk meminta domba yang dijaga adiknya, si kakak mengabaikan cara yang disukai Tuhan dan menggunakan cara yang disukainya. Ia mengabaikan apa yang dihendaki Tuhan dan menggantinya dengan apa yang diinginkannya.

Waktunya pun tiba, ketika batu mezbah dan ranting-ranting sudah disiapkan. Disimpannya gandum, sayur-sayuran dan buah-buahan di atas mezbah sementara adiknya menaruhkan anak domba tak bercacat di atas mezbahnya.

Kita tidak tahu apa tandanya sampai si sulung mengetahui bahwa Tuhan tidak menerima persembahannya. Mungkin saat itu api bakaran berasal dari Tuhan, seperti kisah Elia dan nabi-nabi palsu.

Ketika api sudah melalap habis anak domba, meneteskan lemak yang terbaik, gandum dan sayur dan buah-buahannya tetap tak tersentuh, lebih siap dijadikan salad daripada korban bakaran untuk Tuhan.

Si sulung kecewa berat, “bukankah aku sama lelahnya mengolah tanah ini? Dengan keringat dan peluh aku mengerjakan tanah ini agar memberi hasil yang baik. Lihat apa yang terjadi? DIA tak menyukainya”

Si sulung terpukul, “bukankah yang aku berikan juga yang terbaik? Gandum paling ranum, sayuran paling hijau dan buah-buahan paling segar? Lihat apa yang terjadi? DIA menolaknya!”

Kisah selanjutnya adalah apa yang sudah saya sebutkan di atas, “hati-hati Kain… dosa sedang mengintip…kau harus berkuasa atasnya”, dan Kain memilih menjadi pecundang yang kalah pada dosa yang mengintip.

Kisah ini menarik bukan? Ketika apa yang terbaik menurut kita ternyata ditolak oleh Tuhan. Setelah berjerih lelah memberikan apa yang MENURUT KITA paling baik, ternyata menurut Tuhan itu bukan yang terbaik.

Tahukah Anda apa sebabnya? Karena ukuran yang seharusnya kita gunakan adalah ukuran si penerima. Saya beri contoh, Anda ingin membantu seorang anak yang kurang gizi. Anda tidak bisa lantas memberi dia steak domba lezat karena itu makanan kesukaan Anda. perutnya mungkin tidak akan kuat dan dia mungkin malah mati.

Atau… Anda ingin memberi hadiah ulangtahun berupa buku impor mahal pada adik Anda yang suka main games dan tidak suka membaca. Dia terlihat kecewa dan tidak pernah membaca buku yang Anda berikan.

Apa Anda paham maksud saya? Ketika kita ingin memberi untuk Tuhan, maka ukuran yang harus kita berikan bukanlah ukuran kita,… tapi ukuran Tuhan.

Anda seorang Worship Leader dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu berdandan habis-habisan sebelum naik ke atas ‘panggung’, Anda melatih suara Anda agar indah didengar, Anda mengenakan pakaian terbaik, Anda berusaha agar pakaian Anda menarik dan enak dilihat jemaat. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang Guru Sekolah Minggu dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu mendekor ruangan habis-habisan dan membuat craft mahal dan indah agar anak-anak senang. Anda membuat kurikulum dari Alkitab dilengkapi kisah-kisah modern. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang pemusik dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu melatih chord-chord progresif yang tidak banyak orang tahu. Anda melatih kemampuan jari-jari Anda atau kemampuan memukul drum atau kemampuan menggesek biola. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Anda seorang pengkotbah dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anda lalu mengikuti seminar, kursus public speaking, kuliah theologi hingga S3, dan sebagainya. Anda berusaha menjadi pengkotbah yang berapi-api dan disukai jemaat. Anda lupa bertanya pada Tuhan “apa yang Kau inginkan?”

Jangan salah sangka, memberikan yang terbaik untuk Tuhan tidaklah salah… Tentu saja Anda harus memperlengkapi diri agar bisa memberikan yang terbaik. Sebagai Worship Leader, tentu melatih kemampuan vocal itu penting. Sebagai Guru Sekolah Minggu, tentu disukai anak itu penting. Sebagai pemusik, mengenal chord dan bermain musik dengan baik tentu penting. Sebagai pengkotbah, teknik berkotbah tentu penting.

Namun memberikan yang terbaik dengan standar manusia, dan tidak memperhitungkan Tuhan si penerima… itu yang salah.

Memberikan yang terbaik supaya nama kita ditinggikan dan bukan nama Tuhan yang ditinggikan… itu yang salah.

Memberikan yang terbaik karena takut Bapak Pendeta marah…itu yang salah.

Memberikan yang terbaik karena terobsesi untuk ‘kepuasan diri telah melakukan yang terbaik’… itu salah.

Bukankah lucu jika dipikir-pikir, ternyata standar Tuhan seolah-olah “tidak setinggi” standar manusia (atau Bapak Pendeta)? Oh, Tuhan tidak mempermasalahkan chord Anda. Dia tidak akan marah ketika Anda membuat pemain musik mengulang intro dua kali. Dia tidak akan marah ketika Anda harus memarahi anak-anak yang nakal.

Bukankah lucu jika dipikir-pikir, ketika Tuhan tidak marah namun Bapak Pendeta marah ketika PELAYAN TUHAN melakukan kesalahan? Seperti murid-murid yang marah ketika anak-anak datang pada Yesus.

Saudara, prioritas utama kita melayani Tuhan adalah membuat hati-Nya senang… dengan cara meninggikan nama-Nya.

Tak masalah kita berlatih vocal, sejauh itu dilakukan untuk Dia yang memberi kita suara. Tak masalah kita perfeksionis dalam menyajikan musik, sejauh itu dilakukan untuk Dia yang memberi kita kemampuan bermusik. Tak masalah kita mendekor ruangan Sekolah Minggu atau membuat acara untuk anak-anak, sejauh itu dilakukan untuk menyenangkan Dia yang mengasihi anak-anak itu.

Bukankah ketika nama Yesus ditinggikan, Dia akan membuat SEMUA orang datang pada-Nya? Bukan sekedar datang ke gedung gereja, tapi datang kepada-Nya.

Jadi, jika suatu saat kita ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan…pastikan kita menggunakan standar-Nya, yaitu memberikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan, untuk kemuliaan nama-Nya.

Advertisements

One thought on “Ketika Tuhan Menolak ‘Persembahan Terbaik’ Kita

Comments are closed.