Ketopong Keselamatan


Ketopong (atau helm) melindungi kepala kita dari benturan benda keras. Kepala merupakan organ yang vital bagi manusia. Anda bisa saja selamat dengan patah kaki atau patah tangan, tapi patah batang leher… Mati seketika!!

Dalam bahasa Inggris Ketopong keselamatan sering disebutkan sebagai The Helmet – hope of Salvation, ketopong harapan keselamatan. Ya, HARAPAN! Setelah iman yang kita gunakan sebagai perisai, berikutnya kita membutuhkan harapan keselamatan. 

Harapan berada dalam pikiran kita, merupakan sesuatu yang sangat kita inginkan. Misalnya harapan akan hari esok yang lebih baik, harapan akan kebaikan putra/i kita, dll. Harapan memiliki arti yang jauh melampaui keinginan. Ketika seseorang memiliki harapan, ia akan berjuang melakukan bagiannya agar harapannya dapat tercapai.

Harapan juga adalah sesuatu yang kita miliki berdasarkan janji dari seseorang. Saya beri contoh, jika seorang ayah berkata pada putranya, “nak, besok kita berenang ya,” maka putranya ini akan berharap bahwa besok ia akan berenang. Harapannya ini didasarkan pada janji ayahnya.

Seorang ayah yang tepat janji akan membuat anaknya memiliki harapan. Sebaliknya, ayah yang selalu ingkar janji akan membuat anaknya berhenti berharap, bahkan sekalipun ayahnya memberikan janjinya.

Harapan kita didasarkan pada janji Tuhan akan keselamatan. Kabar baiknya, Tuhan kita tidak pernah ingkar janji, ia akan menepati setiap janji-Nya.

Permasalahannya, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, harapan jauh melampaui keinginan. Ketika seseorang memiliki harapan, ia akan melakukan bagiannya agar harapannya tercapai. Kembali ke contoh anak yang diajak berenang oleh ayahnya. Ayahnya tentunya tidak akan dapat mengajaknya renang jika pada waktunya ternyata anaknya sedang bermain ke rumah teman. Ayahnya tentu tidak akan dapat mengajak anaknya berenang jika sebelum hari yang dijanjikan anaknya hujan-hujanan sehingga terserang flu.

Ketika Tuhan menjanjikan kita keselamatan, kita harus melakukan bagian kita, yaitu menerima keselamatan itu, dan mengenakannya di kepala. Ya, benar di kepala. Mari sekarang kita bahas kenapa keselamatan disejajarkan dengan ketopong yang dikenakan di kepala.

Kepala merupakan tempat tinggal otak kita. Otak manusia berbeda dengan otak hewan karena di dalamnya terdapat neo korteks, pengendali logika manusia. Seseorang menjadi atheis ketika otaknya berbicara lebih keras daripada hatinya, dengan kata lain logikanya lebih kuat daripada perasaan yang dia miliki. Menurutnya, tidak mungkin bahwa Tuhan itu ada dan menciptakan segala sesuatunya karena menurut ilmu pengetahuan bla bla bla. 

Masalahnya, kita tidak cukup hanya memiliki baju zirah pelindung hati kita (atau jantung, apapun Anda ingin menyebutkannya), dan iman pelindung spiritual kita, kita membutuhkan pelindung logika kita. Seringkali, logika kita yang menjauhkan kita dari anugerah yang sudah Tuhan sediakan. 

Saya beri contoh:

“Tidak logis Tuhan mau menjadi manusia dan menyelamatkan manusia begitu saja”, 
“Tidak logis Tuhan yang begitu Agung harus menjadi manusia yang bisa lapar, haus dan butuh ke jamban membuang kotoran” (saya mendengar ini di salah satu debat dua agama besar dunia”
“Tidak logis Tuhan yang begitu Besar menjadi manusia dan mati di kayu salib, mengapa Ia tidak menyelamatkan diriNya”
“Tidak logis Tuhan yang harus menanggung dosa manusia”

Ya…. Kita tidak bisa selamat jika menggunakan logika manusia  (saya pernah menulis mengenai logika di sini).  Kita hanya dapat diselamatkan jika kita menggunakan logika yang berdasarkan pada kasih karunia Tuhan. Logika bahwa “Karena Tuhan besar maka Dia sanggup melakukan segala sesuatu, termasuk menjadi manusia” dan “Karena Tuhan adil maka Dia harus menghukum setiap kejahatan” dan “Karena Tuhan begitu mengasihi manusia maka Dia turun menjadi manusia untuk menanggung dosa semua manusia. Karena Dia tahu, tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan jika hanya mengandalkan perbuatan baik.

Ini adalah ketopong keselamatan!! Lindungi logika Anda dengan harapan akan keselamatan yang datangnya dari Tuhan. Kabar baiknya, Tuhan tidak pernah ingkar janji, Dia pernah berjanji bahwa “…barangsiapa yang percaya kepada Kristus dan pengorbanannya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal”. Ya, ini adalah harapan keselamatan. Ketika kita memiliki harapan keselamatan, kita akan melakukan bagian kita, terima keselamatan itu dan mengerjakannya sampai garis akhir.

Lihatlah logika Anda sekarang, apakah sudah terlindung oleh Ketopong Keselamatan?

Advertisements