Perisai Iman


Kita sudah membahas tentang ikat pinggang kebenaran yang menyatakan kesiapsediaan kita melakukan apa yang benar, baju zirah keadilan yang menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan dan kasut kerelaan memberitakan Injil yang memberi kita kenyamanan saat bersaksi tentang Tuhan. Hari ini kita membahas perlengkapan yang keempat, yaitu Perisai Iman.

Perisai tentara Romawi (seperti yang diketahui Paulus, penulis dari Efesus) adalah perisai dengan ukuran yang luar biasa. Tingginya bisa mencapai 1,3 meter dan lebarnya 1 meter. Perisai ini (yang dinamakan scutum) terbuat dari kayu yang dikelilingi lapisan baja dengan logam di tengahnya.

Logam di tengah ini selain berfungsi untuk melindungi tangan di bagian dalam juga berfungsi untuk menyerang lawan.

Dengan kata lain saya ingin menyampaikan bahwa perisai ini benar-benar melindungi si prajuritnya, sepanjang prajurit mengenakannya. Perisai merupakan perlengkapan pertama yang tidak terpasang dalam tubuh tentara. Perisai harus dipegang dan diangkat menutupi badan untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Jika tiga senjata sebelumnya hanya berfungsi proteksi tubuh, perisai merupakan senjata pertama yang harus kita miliki untuk pertahanan diri. Perisai harus diangkat untuk melindungi bagian tubuh kita (khususnya wajah), dan perisai dapat dihantamkan kepada lawan yang mulai mendekat sebagai mekanisme pertahanan diri.

Perisai iman berfungsi melindungi kita dan membantu kita memberikan perlawanan pada si Iblis. Lalu, kapan kita menggunakannya?  Efesus 6:16 menyebutkan “Dalam segala keadaan…pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat”. Ya, DALAM SEGALA KEADAAN! Fungsinya? Memadamkan panah api dari si jahat!

“Api” biasanya bicara mengenai hal-hal yang bersifat spiritual. Jika Baju Zirah melindungi hati kita, perisai melindungi spiritual kita dari serangan spiritual si jahat. Apa saja panah api dari si jahat? Saya akan memberi beberapa contoh panah api dari si jahat

1. Serangan spiritual – Konsep Tuhan

Berbeda dengan jaman Alkitab ditulis, saat ini, tidak ada yang pernah melihat Tuhan. Dia terlalu kudus, terlalu suci, terlalu agung untuk dapat dilihat manusia. Salah satu panah Iblis adalah suatu pemahaman yang diyakini orang Atheis ‘Tidak ada Tuhan”. Akibatnya banyak orang tidak mempercayai adanya Tuhan karena mereka pikir sesuatu yang ada seharusnya dapat mereka lihat. Semakin modern kehidupan manusia rupanya mereka semakin meragukan Tuhan.

Panah berikutnya dari Iblis mengenai konsep Tuhan adalah bahwa DIA adalah pribadi yang kejam, menakutkan, tidak tersentuh, tidak terselami. Seperti hakim yang hanya memutuskan benar-salah, baik-buruk, seperti tuan yang jahat yang memperbudak manusia. Akibatnya manusia merasa tidak berharga karena merasa terlalu kotor sehingga semakin lama manusia semakin jauh dari penciptanya.

Apa yang membuat manusia dapat yakin bahwa Tuhan ada penuh kasih dan kemudian mempercayakan kehidupan mereka sepenuhnya pada Tuhan? Apa yang membuat manusia yakin akan kepercayaan (agamanya) masing-masing walau mereka tidak melihat sendiri setiap detil yang tertulis dalam kitab suci? Apa yang membuat manusia yakin bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara yang besar? Ya!! Iman yang mereka miliki!

Iman membuat manusia :

  1. Percaya bahwa Tuhan ada
  2. Percaya bahwa Tuhan itu berkuasa
  3. Percaya bahwa Tuhan mengasihinya
  4. Menjalin hubungan intim dengan Pencipta

2. Serangan spiritual – Kehidupan setelah kematian

Saya pernah menulis tentang kematian. Begitu banyak orang takut akan nasib mereka setelah kematian, akan penghukuman kekal yang mungkin menimpa mereka setelah mereka mati. Serangan iblis pertama mengenai konsep kehidupan setelah kematian adalah menakut-nakuti manusia akan neraka tanpa solusi jalan keluar bagaimana menghindarinya.

Atau, ia melancarkan kebohongan bahwa  “tidak ada kehidupan setelah kematian”, atau “jika Tuhan penuh kasih, pastilah tidak ada neraka” dengan tujuan agar manusia dapat menghidupi kehidupan dengan sebebas-bebasnya tanpa rasa takut akan Sang Pencipta dan penghukuman yang akan datang.

Hanya sebagian orang yang bisa menghadapi kematian dengan tenang, karena memiliki keyakinan bahwa setelah kematian, ada kehidupan kekal bersama Pencipta yang menanti mereka. Apa yang membuat mereka dapat yakin? Benar sekali IMAN!!!

Iman membuat manusia :

  1. Percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian
  2. Merasa perlu diselamatkan untuk dapat hidup bersama Pencipta setelah kematian
  3. Meyakini keselamatan yang diberikan oleh Tuhan
  4. Melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk menyenangkan hati-Nya

Pertanyaan berikutnya yang tidak kalah penting adalah, dari mana asalnya iman? Alkitab menjawab, Iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan (Roma 10:17) dan Berita Injil (Filipi 1:27). Selanjutnya setelah kita memelihara iman, tanggungjawab kita adalah memelihara iman agar kita senantiasa terlindung dari panah api si jahat.

Memegang perisai sebesar itu memang berat bagi prajurit Romawi, namun jika mereka tidak memegangnya, mereka terancam bahaya dari lawan mereka. Panah bisa saja mengenai tangan, bahkan wajah mereka. Memelihara iman bisa jadi sangat berat bagi kita, namun iman satu-satunya yang dapat melindungi kita dari serangan spritual yang dilakukan si Iblis. Hanya keyakinan kita pada Tuhan dan kuasa -Nya yang dapat melawan si jahat. Hanya keyakinan kita akan kehidupan setelah kematian dan bahwa suatu saat kita akan hidup bersama Tuhan yang dapat membuat kita terus berlari hingga garis akhir.

Jadi, setelah Anda berpakaian lengkap dengan ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan dan kasut kerelaan memberitakan Injil, apakah Anda sudah mengangkat perisai Anda untuk melindungi Anda dari panah api si jahat?

Advertisements